Showing posts with label ayah. Show all posts
Showing posts with label ayah. Show all posts

Thursday, January 15, 2015

Sebuah sajak untuk Pak Tua.

Di balik senyummu,
kau pikul beban berat, yang makin mengikat.
Wajar berada,
santai bersiul, tanpa pernah senyum terlipat.

Tak berhenti, melangkah maju,
meniti jalan berbatu.
Menggali demi segenggam emas,
Memetik demi sepikul kapas.
Semuanya,
demi senyum bahagia, anak istri tercinta.

Seringkali terlupa oleh kami,
perjuanganmu yang tak terhina.
Yang umpama laksamana mendaki ombak,
takkan tergoyahkan dan menjumpa rana.

Di balik kerasnya fisikmu,
tersimpan hangat kasihmu.
Betapa durhakanya anakmu,
tak pernah sebabkan dendammu.

Sering terabaikan guratan keriputmu,
yang mengukir sejarah di wajah tuamu.

Berpeluh,
berdarah.
Cemas hati akan keluarga di rumah.

Dan akhirnya,
hanya sebait doa yang dapat ku kirimkan,
demi selamat, dan tenangmu dalam aman,
yang akan mengantar dirimu,
Padaku.

Terima kasih,
Ayah!

#RuangKosong

Monday, December 15, 2014

Hari ini Lima Puluh Tahun Lalu.

15 Desember 2014

Pada hari ini Lima Puluh Tahun Lalu,
seseorang lahir.
Dunia tak tahu, memang.
Iya, ku akui itu.

Dunia tak tahu.
Dan tak akan pernah tahu,
atau lebih tepatnya, dunia tidak perlu tahu.

Dunia takkan kekurangan apapun,
bila tak ada dia.
Memang.

Tapi duniaku,
takkan pernah ada tanpa hadirnya.

Malam mengakrabi dirinya.
Seumpama Jarum Menit dengan Jarum Jam.
Bekerja,
dari dhuha hingga ayam berkokok.
Tak beristirahat.
Tak pernah lelah.
Tak pernah berhenti merokok.
Kuat,
tapi rapuh.

Perkenalanku dengannya,
hanyalah seperti daun teratai.
Tak luas,
dan tak pula kuat menopang.

Ia kenalkanku pada malam,
yang akhirnya ku puja.
Lantas, malam pulalah yang menjemputnya.

Pada akhirnya,
semuanya akan sama.
Malam merindukan suasana sunyi.
Tanpa hadirnya,
orang-orang pengganggu.
Hening.
Tenang.
Tak terganggu.

Tak terlalu baik pula ia terjemput.
Menyisakan beban, menjauhkan hati.
Dan akan selalu berakhir sama,
hal yang dirindukan akan diambil segera.

Orang perkasa itu dijemput oleh fajar.
Hal yang sekian lama dihindarinya.
Justru berbalik menemuinya.

Mataku kosong saat itu.
Tapi, tak mengapa.
Itu tak berpengaruh bagiku.

Semoga kau selalu baik,
Pak Tua.

In memoriam,
quelqu'un qui reflète la lune.
Jumari Angga Adhi Chandra.



Sunday, June 15, 2014

aku benci ayahku.

aku dilupakan.
seringkali dengan alasan pekerjaan.

itu sudah biasa.

ayahku pergi ketika aku masih kecil.
berpisah dengan ibuku tanpa alasan yang jelas.
dan akhirnya, aku tahu alasannya.

ayahku bukan orang yang baik.
bukan salah satu orang yang pantas disebut 'ayah'.
hanya seorang pria yang menanam benih dalam rahim ibuku, dan meninggalkanku begitu saja.

demi politik, ia rela mati menanggungnya.
lisan adalah segalanya dalam politik. itu menurutku.
karenanya, ayahku sangat hebat dalam bersilat lidah.
menyusun kata, memanipulasi, memprovokasi, dan segala kegiatan persuasi.

keahlian itu menurun kepadaku.
entah aku harus senang atau menderita.

ayahku membunuh dirinya sendiri.
tidak dalam arti langsung, tapi secara perlahan.
rokok, kopi, pergi-malam-pulang-pagi,
dan segala penyebab kematian jangka panjang lainnya.

dan akhirnya, aku membenci semua hal itu.
aku membenci ayahku, dan segala hal yang berhubungan dengannya.

pada akhirnya, aku sadari,
tak ada gunanya aku membencinya.
setidaknya, ia telah memberiku kesempatan untuk melihat dunia yang fana ini.
mengenal dengan baik bajingan berjas rapi yang beraksi atas nama hati.
mengenal sahabat, teman, bahkan musuh.
menghancurkan hatiku, lantas menjadikanku kuat karenanya.

teruntuk ayah,
seorang yang mengajarkanku kehidupan secara tidak langsung.

cium rindu dariku
semoga kau tenang di sana, ayah..