Showing posts with label negeri. Show all posts
Showing posts with label negeri. Show all posts

Thursday, May 15, 2014

negeri di penghujung sutra..

disini,
semua orang dipaksa menelan angan-angan mentah oleh lalat-lalat pemerintah.

disini,
matahari berjuang menembus pekatnya bualan dan omong kosong  untuk menyinari tanah tandus tak bernama.

disini,
sebilah pedang lebih disanjung daripada seonggok janin tak berayah.

disini,
harga diri tak ada yang menemui.
tak masalah apa status istrimu ketika kau menikahinya. apakah ia perawan, atau pelacur. yang penting, apakah istrimu sanggup memenuhi hasrat binatang atasanmu atau tidak.

disini,
ikut campur berarti cari mati.

di negeri angan-angan ini,
kata-kata bisa memicu peperangan.
sembarang tegur bisa menutup kemungkinanmu untuk melihat matahari esok.
satu jentikan jari sanggup menggetarkan dasar samudra.
tak berharta, sama dengan tak bersaudara.

tapi, meskipun demikian
di negeri angan-angan ini,
seorang penjahat teri sekalipun akan mengenal etika seorang penjahat.

dan juga,
seorang pahlawan takkan pernah menamai diri pahlawan,
mereka menamai diri, 'penjahat putih'.

jadi,
maukah kau menemaniku disini?

#alexianism

Thursday, April 17, 2014

siapakah yang patut disalahkan?

Mendung menggantung, langit pun menangis.
mengendapkan nuansa kelabu di negeri ini,
sebuah batu zamrud berdebu yang tergiring hingga khatulistiwa.

"Dimana Tuhan?" tanya mereka.
"Apakah Tuhan tidak melihat kita? Kita sedang menderita!" tanya mereka yang lain.
"Air ini terlalu banyak! Lihatlah, barang barang kita jadi terendam!" sahut mereka yang lain.
"Tuhan! Dengarlah! Hentikan hujan ini!" mereka berteriak memohon.
"Tuhan! Tidakkah kau mendengar do'a kami?" mereka memohon dengan lebih keras.

Malaikat penjaga pintu langit pun tertawa mengejek melihat mereka demikian.
"Bodoh sekali mereka!" kata salah satu malaikat.
"Benar! Mereka selalu saja merusak alam dengan segala perbuatan mereka, tapi lihatlah, baru sedemikian saja, mereka sudah menyerah dan minta dihentikan, padahal ini adalah hujan biasa yang diturunkan Tuhan melalui Mikail, bukan? Sungguh manusia yang tak tahu diri!" timpal malaikat yang lain, kesal.
"Itulah manusia, selalu tak mau disalahkan bila berbuat, selalu mencari kambing hitam untuk disalahkan." dengus malaikat lainnya.

Langit pun masih saja menumpahkan tangisannya,
mengubah daratan menjadi lautan,
membuat atap-atap rumah bagaikan perahu-perahu kecil yang terombang-ambing.
meninggalkan manusia dalam keputus-asaannya.

matahari dan sebuah negeri

Matahari baru saja tumbang dari kaki langit,
Menyisakan semburat jingga yang mewarna senja,
Menghitam, menjemput malam.. 
Menyelimuti dunia dalam bayang dan senyap..

Aku sadar,
tak selamanya kaca akan selalu jernih,
tak selamanya pisau akan selalu tajam,
tak selamanya jam akan berdetak.
Semuanya, bagaimanapun juga,
pasti akan menemui akhir, mati, lalu ber-reinkarnasi.

awan menghitam, berarak mengiringi
hujan turun, kilat bersahut
apakah langit menangis karena sedih?
kurasa tidak.
tangis langit, adalah tangis prihatin,
atas segala yang terjadi pada negeri ini,
atas rusaknya moral di negeri ini,
betapa ternyata negeri ini berada di ujung tanduk,
ya, inilah negeri pada bedebah.

inspired by Tere Liye,
your book is extremely awesome..