Showing posts with label #nugt. Show all posts
Showing posts with label #nugt. Show all posts

Saturday, May 9, 2015

Bee

Hari ini aku bertemu seorang pemuka agama.
Tidak bertemu empat mata memang.
Aku hanya hadir di antara majelis. 
Di mana majelis itu membahas tentang kriteria memilih pasangan hidup.

Setelah semuanya selesai disampaikan,
aku membeku.

Pikiranku, perasaanku, dan hatiku.







Ternyata,
Semuanya memang masih terpaku padamu.

Bahkan sedari tadi,
aku masih saja memikirkanmu.

#RuangKosong

Saturday, January 24, 2015

Mimpi jauh tak mencari

Jutek,
kilauan pesona sosialis,
jatuhan peluk orang jelek.

Kata-kata tak pernah memeluk adinda.
Yang terbang mengawang, bening laksana kaca.
Tak dinyana, aku memimpikanmu.
Indah,
terpaku pada sesuatu.

Kita berkumpul dalam mimpi,
sedang berada dalam ruang para pengaji.
Kau berbaring,
membaca buku, yang begitu memang sering.
Tergurat kebahagiaan pada wajahmu.
Ataukah hanya diriku yang terlalu bahagia bersamamu?

Jujur,
aku tak pernah berharap memimpikanmu.
Seorang permaisuri sempurna, yang tak akrab dengan kata biru.

Sedih,
sadar meniti jurang yang terbentang.
Memang terlalu beda langit bumi yang jauh beda menantang.

Rasa percaya diri,
rontok tanpa pernah peduli.

#RuangKosong

Monday, January 5, 2015

If only you know my feelings on you, dear...

Kemarin aku memimpikanmu.
namun mimpi kali ini begitu aneh.
berbeda dari mimpi mimpi sebelumnya.

dalam mimpi ini,
kita berdua berada di sebuah pernikahan.
tidak,
bukan pernikahan kita berdua.
itu pernikahanmu.
ya, benar-benar pernikahanmu.
entah bagaimana saat itu kita berada di rumahmu.
dan aku berada di antara keluargamu.
atau sanak familimu..
apalah mereka

sanak familimu menangis terharu.
dan buruknya,
aku berada di antara mereka.
dan aku, menangis tersedu.
melihatmu yang akan menikah,
namun bukan dengan ku.
dan kemudian,
ku lihat engkau menangis.

awalnya,
kukira engkau menangis karena terbawa suasana
sendu
haru
dan hal-hal sial lainnya
namun aku merasa,
kau menangis karena pernikahanmu.
Aku tak tahan,
lantas aku pergi dari rumah itu.

Tiba-tiba,
kau datang menemuiku.
Dengan pandangan matamu yang sedih dan berurai air mata,
kau menatapku sejenak.
Apa maksud mimpiku ini?
Entahlah.
mungkin hanya Pak Tua itu yang tahu.


31 Desember, masih 2014.

11 malam.

Hari Terakhir Tahun Ini.

Semalam aku memimpikan Adinda.
Tentu aku senang.
Dirimu datang dengan terang.
Seperti biasa.

Tapi ada satu hal yang mengganjal.
Adinda seperti menangis.
Kau sekati wajahmu dari udara dengan tangan.

Ya,
seperti menangis.
Hingga kurasa,
Adinda menangis karena diriku.
Benarkah itu?
Apakah aku terlalu kotor?
Entah.
Hanya Tuhan yang tahu.

Di bawah langit Pandeglang.

Di sini,
berdiri aku memandang langit.
Khawatir akan adinda,
yang laksana Buah Ranum Terakhir.

Khawatir sepertiku pula kawanku seorang Madura.
Ngantuk.
Letih.
Takluk.
Cemas.
Lemas.
Heran.

Kenapa Harus di sini?
Tak bisakah jarak di antara kita,
hanya selemparan batu saja?
Berdosakah aku,
bila aku egois,
hanya mendoakanmu seorang?

Aku mungkin ahli bermain kartu,
berdebat,
tekno,
gitar,
dan apapun lainnya.

Semua telah kulakukan.
Bagaimana?
Kujalani saja.
Sederhana.

Tapi,
aku justru tak berdaya,
melawan pesonamu,
yang menekuk hati dan jiwaku,
padamu!

#Merry Bitchmas 25.12

Tuesday, December 9, 2014

#nugt, pray.

Tuhanku,
Allah.
Aku takut akan hal buruk,
yang mungkin akan menimpanya.
Aku takut atas kuasa jahat,
yang mencoba melawan perlindunganmu.
Tolong aku,
wahai Tuhanku,
yang mencipta dan menguasai bumi dan langit,
beserta segala isinya.

Jagalah ia,
Kumohon.

8 Dec.
 at Ruang Kosong.
Panik setelah menyadari kemungkinan terburuk.

#nugt, part 3 - sajak petarung

Amboi.
Mataku tersisa lima watt.
Tak paham sebabku,
masih bisa bertahan.

Kemarin, 
kulihat rembulan duduk,
di atas kursi merah.
Kau terang,
dan membuat tenang.
Itulah dirimu apa adanya.

Awalnya tak kusangka, memang,
namun melihatmu sebegitu dekatnya,
membuat hatiku terbang.

Jiwaku meremang,
hanya karena berada di dekatmu,
yang berbalut nuansa muda.
Karenanya,
seuntai doaku, selalu kukirimkan untukmu.

Tanpa sadar, aku terpaku, 
dan terpukau oleh dirimu.

Wajahmu, yang sehalus awan.
Pandanganmu, yang seteduh sinar bulan.
Pribadimu, yang melukiskan anak perawan.

Namun, yang menarik hatiku bukanlah hal-hal itu.
Sebab aku jatuh padamu,
kuatnya Agamamu,
Yang laksana Kerajaan Tak Terlawan.

8 Dec.
Tertahan, Tak Terlukis.
Itulah perasaanku padamu.
Akankah kau tahu bagaimana perasaanku padamu, Bella?

#nugt, part 2 - ruang kosong

Aku melihatmu.
Jelas,
seperti cerahnya matahari di ufuk timur.
Tampak berkilau,
laksana zamrud yang tersimpan,
di kantung pedagang Cina.

Aku disini,
hanya diam.
Terbayang dirimu,
yang melenggang anggun disana.
Dan akhirnya,
semua hadirin ini, 
kuabaikan.

Rasanya hanya aku yang duduk disini,
dan dirimu yang duduk disana.
Kita ada disini,
bagai di ruang kosong.
Karena,
hanya kita disini.
Ya,
hanya kita. 

at Ruang Kosong
Sebuah tempat imajiner milikku seorang.

Akankah kau tahu bagaimana perasaanku padamu, Bella?