Wednesday, January 21, 2015

Sebuah cerita gelap.

Pernahkah kau menyadari,
bahwa ada seseorang,
berdasi,
dan ia bisa mengendalikan semuanya?

Namun, ia lebih jahat daripada Iblis.

Kalau kalian paham teori konspirasi,
kalian pasti akan sadar.

Ia bisa seenaknya menaikkan harga pasar.
Ia yang memilih Pemimpin Negara yang akan di lantik,
di negara manapun yang ia mau.
Ia yang menyebabkan peperangan,
dan yang lebih buruk lagi,
ialah yang mendanai dua sisi peperangan.

Ia memantau seluruh pergerakan manusia,
dengan chip kecil dalam tubuhmu.
Ia memiliki catatan lengkap riwayatmu,
tagihan kreditmu,
jejak perjalananmu,
dan bahkan,
ia menyadap setiap koneksi teleponmu.

Entah mengapa ia melakukan itu.

dalam pikiranku,
ia hanya seorang psikopat,
yang melakukan semuanya,
demi kesenangan imajinernya belaka.

Hahaha...

Sadarlah.

bahkan ketika kau membaca tulisanku ini,
ia sedang melihatmu.


Tak percaya?
Kau kira,
siapa yang menghasut para peneliti untuk menciptakan Internet?

#RuangKosong

Thursday, January 15, 2015

Sebuah sajak untuk Pak Tua.

Di balik senyummu,
kau pikul beban berat, yang makin mengikat.
Wajar berada,
santai bersiul, tanpa pernah senyum terlipat.

Tak berhenti, melangkah maju,
meniti jalan berbatu.
Menggali demi segenggam emas,
Memetik demi sepikul kapas.
Semuanya,
demi senyum bahagia, anak istri tercinta.

Seringkali terlupa oleh kami,
perjuanganmu yang tak terhina.
Yang umpama laksamana mendaki ombak,
takkan tergoyahkan dan menjumpa rana.

Di balik kerasnya fisikmu,
tersimpan hangat kasihmu.
Betapa durhakanya anakmu,
tak pernah sebabkan dendammu.

Sering terabaikan guratan keriputmu,
yang mengukir sejarah di wajah tuamu.

Berpeluh,
berdarah.
Cemas hati akan keluarga di rumah.

Dan akhirnya,
hanya sebait doa yang dapat ku kirimkan,
demi selamat, dan tenangmu dalam aman,
yang akan mengantar dirimu,
Padaku.

Terima kasih,
Ayah!

#RuangKosong

Monday, January 5, 2015

If only you know my feelings on you, dear...

Kemarin aku memimpikanmu.
namun mimpi kali ini begitu aneh.
berbeda dari mimpi mimpi sebelumnya.

dalam mimpi ini,
kita berdua berada di sebuah pernikahan.
tidak,
bukan pernikahan kita berdua.
itu pernikahanmu.
ya, benar-benar pernikahanmu.
entah bagaimana saat itu kita berada di rumahmu.
dan aku berada di antara keluargamu.
atau sanak familimu..
apalah mereka

sanak familimu menangis terharu.
dan buruknya,
aku berada di antara mereka.
dan aku, menangis tersedu.
melihatmu yang akan menikah,
namun bukan dengan ku.
dan kemudian,
ku lihat engkau menangis.

awalnya,
kukira engkau menangis karena terbawa suasana
sendu
haru
dan hal-hal sial lainnya
namun aku merasa,
kau menangis karena pernikahanmu.
Aku tak tahan,
lantas aku pergi dari rumah itu.

Tiba-tiba,
kau datang menemuiku.
Dengan pandangan matamu yang sedih dan berurai air mata,
kau menatapku sejenak.
Apa maksud mimpiku ini?
Entahlah.
mungkin hanya Pak Tua itu yang tahu.


Tahun Baru Pukul Satu.

Pandeglang, satu pagi.

Hari ini,
ku langgar satu sumpahku.
Yah, saat kutulis ini,
sebatang rokok terselip di antara jemariku.

Tidak.
Aku tentu tidak membelinya.
Prinsip itu tetap ku pegang.
Buang-buang uang saja.

Benda ini dari seorang kawan.
Tak perlulah kuceritakan bagaimana,
atau mengapa.
Itu tak penting.

Aku hanya menghindar.
Menghindar dari kemungkinan yang lebih buruk.
Karena di sini,
awan tercipta dari asap tembakau.

Lantas,
kuambil kembali benda itu.
Sama seperti dulu.
Ya.
Sama.

Perlahan, benda ini mengingatkanku pada Ayah.
Tidak terlalu, memang.
Tapi udara malam yang berteman awan tembakau,
yang berlembabkan uap kopi,
menghipnotisku begitu saja.

Sudahlah,
mungkin hanya aku saja yang terlalu gundah.

#ruang kosong
1 Januari,
Happy New Fear.

31 Desember, masih 2014.

11 malam.

Hari Terakhir Tahun Ini.

Semalam aku memimpikan Adinda.
Tentu aku senang.
Dirimu datang dengan terang.
Seperti biasa.

Tapi ada satu hal yang mengganjal.
Adinda seperti menangis.
Kau sekati wajahmu dari udara dengan tangan.

Ya,
seperti menangis.
Hingga kurasa,
Adinda menangis karena diriku.
Benarkah itu?
Apakah aku terlalu kotor?
Entah.
Hanya Tuhan yang tahu.

Di bawah langit Pandeglang.

Di sini,
berdiri aku memandang langit.
Khawatir akan adinda,
yang laksana Buah Ranum Terakhir.

Khawatir sepertiku pula kawanku seorang Madura.
Ngantuk.
Letih.
Takluk.
Cemas.
Lemas.
Heran.

Kenapa Harus di sini?
Tak bisakah jarak di antara kita,
hanya selemparan batu saja?
Berdosakah aku,
bila aku egois,
hanya mendoakanmu seorang?

Aku mungkin ahli bermain kartu,
berdebat,
tekno,
gitar,
dan apapun lainnya.

Semua telah kulakukan.
Bagaimana?
Kujalani saja.
Sederhana.

Tapi,
aku justru tak berdaya,
melawan pesonamu,
yang menekuk hati dan jiwaku,
padamu!

#Merry Bitchmas 25.12

Monday, December 15, 2014

Hari ini Lima Puluh Tahun Lalu.

15 Desember 2014

Pada hari ini Lima Puluh Tahun Lalu,
seseorang lahir.
Dunia tak tahu, memang.
Iya, ku akui itu.

Dunia tak tahu.
Dan tak akan pernah tahu,
atau lebih tepatnya, dunia tidak perlu tahu.

Dunia takkan kekurangan apapun,
bila tak ada dia.
Memang.

Tapi duniaku,
takkan pernah ada tanpa hadirnya.

Malam mengakrabi dirinya.
Seumpama Jarum Menit dengan Jarum Jam.
Bekerja,
dari dhuha hingga ayam berkokok.
Tak beristirahat.
Tak pernah lelah.
Tak pernah berhenti merokok.
Kuat,
tapi rapuh.

Perkenalanku dengannya,
hanyalah seperti daun teratai.
Tak luas,
dan tak pula kuat menopang.

Ia kenalkanku pada malam,
yang akhirnya ku puja.
Lantas, malam pulalah yang menjemputnya.

Pada akhirnya,
semuanya akan sama.
Malam merindukan suasana sunyi.
Tanpa hadirnya,
orang-orang pengganggu.
Hening.
Tenang.
Tak terganggu.

Tak terlalu baik pula ia terjemput.
Menyisakan beban, menjauhkan hati.
Dan akan selalu berakhir sama,
hal yang dirindukan akan diambil segera.

Orang perkasa itu dijemput oleh fajar.
Hal yang sekian lama dihindarinya.
Justru berbalik menemuinya.

Mataku kosong saat itu.
Tapi, tak mengapa.
Itu tak berpengaruh bagiku.

Semoga kau selalu baik,
Pak Tua.

In memoriam,
quelqu'un qui reflète la lune.
Jumari Angga Adhi Chandra.



Tuesday, December 9, 2014

Elegi Orang Tua - Senja Renungan

Apakah kau pernah bersyukur,
disamping mengeluh,
tentang betapa kakunya orang tuamu?
Pernahkah kau menyeka,
keringat letih Ayahmu setelah bekerja?

Yang rela mati untukmu.
Yang menangis di belakang wajahmu,
agak tak malu dirimu karenanya.
Yang tetap tersenyum,
mengabaikan betapa mengesalkannya dirimu,
saat meminta ini-itu?

Berapa kali kau menangis memohonkan ampun untuknya?
Pantaskah kau meninggikan nada bicaramu padanya?
Dengan alasan bahwa ia galak memarahimu,
kau bantah segala ucapannya.

Padahal,
ia selalu menangis menyalahkan diri sendiri,
setelah memarahimu.
"Mengapa aku marahi anakku?"
Itulah pertanyaan dalam pikirannya.
Pernahkah kau sadar,
berapa kali kau menyakiti hati orang tuamu?

Sebelum terlambat,
datanglah padanya.
Mintalah maaf dan ridhanya.
Sebab aku kesal,
karena kalian tak tahu diri,
Menyia-nyiakan waktu bakti kalian pada Orang Tua.

Teruntuk Almarhum Ayah,
Terima kasih sudah mau mengenalkanku pada dunia yang rusak ini.
Ibu,
Terima kasih, atas kesediaanmu membesarkanku menjadi seperti ini,
dan bertahan sekian lama bersama Ayah.

9 Desember.
at Ruang Kosong.



Elegi Orang Tua - Siang Bergejolak

Apa kabar Ayah, wahai Tuhanku?

Dahulu,
engkau kirimkan ia,
pada Ibuku yang gadis.

Aku.
Akulah yang  teranggap sebagai anak mereka.
Tapi,
bila dosa terus mengalir pada Ayahku,
dan duka nestapa menghentak Ibuku,
alangkah baiknya, engkau tak pernah mengijinkanku,
untuk lahir, wahai Tuhanku.

Hinaku,
tanpa saudara bagiku.
Menghitamkan mataku yang telah sayu.
Angkara,
Ingin ku tebas kepalanya dengan kayu.

Lantas,
aku akan menjadi Ayah bagi anakku kelak.
Tapi bagaimana nanti?
Seorang pastilah meniru,
apa yang Ayahnya perbuat.
Sedangkan aku?
Dimana Ayahku?

Mungkin semua ini,
hanyalah karena aku iri padamu.
Kau bahagia, aku berduka.
Kau tertawa, aku sengsara.
Namun, tahukah kalian?
Mengapa aku berkata begini?

Bagian ketiga
Elegi Orang Tua - Senja Renungan


Elegi Orang Tua - Pagi Beranjak

Aku dipukul.
Sakit.
Lantas aku menangis.
Tapi, aku tidak menangis,
karena sakitnya pukulan.

Tak ada Ayah.

Itu lebih menyakitkan dari pukulan.
Tak ada yang berdiri membelaku.
Tak ada yang membantuku,
memperbaiki apa salahku.
Tak ada yang meyakinkanku,
atas apa yang ada dalam pikiranku.
Dimana Ayah?

Hanya Ibu seorang.
Matahariku,
yang mulai redup terkikis angin.
Manusia paling perkasa.
Pelindungku.
Bermental baja berbalut beludru.

Duhai tuan,
bilakah kau tahu apa,
yang dirasa Ibu,
ku yakin,
kau pun pasti akan menangis tersedu.

Ya Allah, Tuhanku.
Bila saja Engkau bermaksud,
menukar Ibu menjadi riang gembira,
tolong lakukanlah.
Cantik wajahnya,
mulai tergurat hempasan ombak nestapa.

Terlalu terbebani hidupnya, wahai Tuhanku.
Olehku,
yang lahir berujung sedihnya.

Bagian kedua:
Elegi Orang Tua - Siang Bergejolak 



Lapar

Lapar.
Ketika harimau dalam perutku,
berteriak minta daging.
Daging.
Daging?
Itu bukan untukku.
Itu barang mewah.
Hanya bangsawan,
yang biasa menikmatinya.

Cambuk.
Cambuk Raja.
Aku takut dicambuk Raja.
Tidak.
Aku tidak takut Raja.
Aku hanya takut,
bila tubuhku yang bagus ini,
terjelekkan oleh bekas cambuk Raja.

Dan akhirnya,
disinilah aku.
Tak berdaya melawan kesombonganku.
Lapar,
tak berani makan.
Ingin makan,
takut dicambuk Raja.
Demi pujaan,
ku korbankan hidupku.

Bodoh?
Memang.
Memangnya itu aku?
Lihat dirimu, bodoh.

Tidak berdaya menghadapi tekanan atasan.
#KebanyakanOrangNegeriIni

#nugt, pray.

Tuhanku,
Allah.
Aku takut akan hal buruk,
yang mungkin akan menimpanya.
Aku takut atas kuasa jahat,
yang mencoba melawan perlindunganmu.
Tolong aku,
wahai Tuhanku,
yang mencipta dan menguasai bumi dan langit,
beserta segala isinya.

Jagalah ia,
Kumohon.

8 Dec.
 at Ruang Kosong.
Panik setelah menyadari kemungkinan terburuk.

#nugt, part 3 - sajak petarung

Amboi.
Mataku tersisa lima watt.
Tak paham sebabku,
masih bisa bertahan.

Kemarin, 
kulihat rembulan duduk,
di atas kursi merah.
Kau terang,
dan membuat tenang.
Itulah dirimu apa adanya.

Awalnya tak kusangka, memang,
namun melihatmu sebegitu dekatnya,
membuat hatiku terbang.

Jiwaku meremang,
hanya karena berada di dekatmu,
yang berbalut nuansa muda.
Karenanya,
seuntai doaku, selalu kukirimkan untukmu.

Tanpa sadar, aku terpaku, 
dan terpukau oleh dirimu.

Wajahmu, yang sehalus awan.
Pandanganmu, yang seteduh sinar bulan.
Pribadimu, yang melukiskan anak perawan.

Namun, yang menarik hatiku bukanlah hal-hal itu.
Sebab aku jatuh padamu,
kuatnya Agamamu,
Yang laksana Kerajaan Tak Terlawan.

8 Dec.
Tertahan, Tak Terlukis.
Itulah perasaanku padamu.
Akankah kau tahu bagaimana perasaanku padamu, Bella?

#nugt, part 2 - ruang kosong

Aku melihatmu.
Jelas,
seperti cerahnya matahari di ufuk timur.
Tampak berkilau,
laksana zamrud yang tersimpan,
di kantung pedagang Cina.

Aku disini,
hanya diam.
Terbayang dirimu,
yang melenggang anggun disana.
Dan akhirnya,
semua hadirin ini, 
kuabaikan.

Rasanya hanya aku yang duduk disini,
dan dirimu yang duduk disana.
Kita ada disini,
bagai di ruang kosong.
Karena,
hanya kita disini.
Ya,
hanya kita. 

at Ruang Kosong
Sebuah tempat imajiner milikku seorang.

Akankah kau tahu bagaimana perasaanku padamu, Bella?

Sunday, December 7, 2014

Rasis

Aku terjebak.
Duhai durjana.

Sempit,
Sesak.
Terjebak di antara Aborigin, Tiong, Batak,
Sunda, Jawa, bahkan Timur dan Barat.

Tak ada Malay.
Kenapa? 
Tak tahulah.
Masa bodoh.
Kawanku seorang Malay,
pergi menghadap Tuhan.
Umrah jauh di ujung mata.

Tak ada pula Arya.
Padahal, ada kerabatku seorang Pashtun,
namun ia bercakap perkataan Arya.
Tapi bagaimanapun jua,
nestapa tak mempertemukanku dengan Arya.

Hanya Mongol,
dari ujung mata ke mata.
Kawanku.

Terutama kau, wahai seribuku.

Tuesday, December 2, 2014

A

Entah mengapa,
aku tertarik padamu.

Tertarik pada halusnya senyummu yang terkembang.
Tertarik pada sintalnya tubuhmu yang terpampang.
Tertarik pada kerlingan matamu yang menggoda.

Seharusnya aku tidak tertarik padamu sejauh ini.
Lihat saja,
bahkan perbedaan di antara kita sanggup menumbuhkan seorang remaja.
Kau sudah tertempa, aku baru tercetak.
Kau sudah mengangkasa, aku baru merangkak bumi.
Entah mengapa, wahai Anti.


Padahal,
dalam dirimu kulihat refleksi ibuku.

Catatan pinggir yang wajar untuk dilupakan.
1 Des 14. 

Friday, November 28, 2014

#nugt

Lihatlah, wahai cintaku.
Bahkan langit mengirimkan awan,
untuk menutupi kesedihanku.
Demikian angin mencoba bertiup,
untuk mengeringkan lukaku.

Aku memang tak sesempurna Romeo.
Aku pun tak memiliki kekuatan Arjuna.
Tapi mengapa?
Apakah karena semua itu, sulitnya menggapaimu begitu dalam kurasakan?

Apakah ini yang namanya keadilan?

Biarlah.
Aku tak peduli akankah aku jatuh,
terbuang,
terinjak,
tak berarti.
Akan kupatahkan hangat mentari,
untuk menggapaimu!

19 Nov.
Cloudy afternoon.
Gloomy feeling.
Andai engkau tahu perasaanku padamu, Bella.

Pendar malam.

Menjelang petang, kali ini gelap.
Lebih gelap.
Ada awan hitam menggantung di angkasa.
Gelap,
dingin,
sunyi.
Seumpama kesedihanku yang memuncak.
Sambaran kilat, merefleksi emosiku,
yang beranjak beriring duka.

Emosiku, jatuhnya bagai kilat.
Ia sanggup membakar seluruh hutan,
dengan jilatan kecil pada ujung cemara.
Ia menggelegar, hingga nirwana terguncang.
Keras,
gelap,
dingin,
sunyi.

Ia besar,
berat,
laksana awan hitam.
Ia sanggup menenggelamkan seisi dunia,
seperti zaman Nuh terdahulu.
Namun awanku tetap tertahan mengudara,
oleh kesabaranku,
yang setipis udara menahan hujan.

Aku benci dia,
sampah sial pencaci.
Aku bersumpah, 
bila ia datang, udaraku akan hilang. 

Saturday, November 15, 2014

Wah! Tanggalnya bagus bang!

Kemarin,
ada yang ulang tahun.

Aku gak kenal siapa dia.

Orangnya dekil,
jelek,
item,
ngeselin,
dan banyak lagi hal gak keren lainnya.

Ternyata,
'dia' itu Aku.

Hahaha...
Absurd.
Aneh.
Mungkin, sedikit gila.

Entahlah,
Tahun ini aku bisa buat KTP.

KTP?
Apa itu?
Model motor terbaru?
Handphone paling mahal?

Bego.

Katanya kalo udah punya KTP, orang itu udah dewasa.
Gak usah minta-minta lagi ke orang tua.
Tapi,
Apakah akan selalu gitu?

Kapan emangnya Aku minta-minta ke orang tua?

Padahal, Aku juga punya permintaan.
Sama seperti yang lain.

Bukannya membanding-bandingkan dan gak bersyukur,
tapi, kalo mau gitu,
hidupku lebih sulit dari hidupmu.

Mungkin aja sih.
Tapi jangan menilai buruk Aku dulu.

Kamu belum ketemu Aku.
 
14.11.14
Semoga Aku bisa punya laptop baru dan kenalan sama dia.
#HarapanBocahBaruGede

Sunday, November 9, 2014

La pépite d'or...

I was stupefied by you.
Yeah, for sure.
When you came into my life that day,
you're no one but a piddling girl to me.
You came into my world appalingly,
and then, i attracted by your good looking.
Until finally, i attracted by your toothsome personality.

It was an enormous mirth to me.
until then, i realize
I couldn't reach you.

It's a mayhem to me.
It started to cause languish,
then i sank in a deep remorse.

It's plausible,
to know a golden piece of nugget,
between the mesmerizing juveniles, like you are.
But to have you?
No.
It's just a hopeless wish.